Published on Fai-kao.com (http://www.fai-kao.com)
Pesan-pesan untuk sang istri
By dede
Created 14/05/2008 - 08:13

 

Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

Anas berkata, —Para  Sahabat Rasulullah Shallallahu ”alaihi wa  sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya maka mereka memerintahkan istri agar berhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya.“

Ummu  Humaid  berkata,  —Para  wanita  Madinah,  jika  hendak  menyerahkan  seorang wanita  kepada  suaminya,  pertama-tama  mereka  datang  kepada  ”Aisyah  dan memasukkannya  di  hadapannya,  lalu  dia  meletakkan  tangannya  di  atas  kepalanya seraya  mendo‘akannya  dan  memerintahkannya  agar  bertakwa  kepada  Allah  serta memenuhi hak suami“ (HR. Ibnu Abi Syaibah (IV/305-306).

”Abdullah  bin  Ja‘far  bin  Abi  Thalib  berwasiat  kepada  puterinya,  —Janganlah  engkau cemburu,  sebab  itu  adalah  kunci  perceraian,  dan  janganlah  engkau  suka  mencela, karena  hal  itu  menimbulkan  kemurkaan. Bercelaklah,  karena  hal  itu  adalah  perhiasan paling indah, dan farfum yang paling baik adalah air.”

Abud Darda' berkata kepada isterinya, —Jika engkau melihatku marah, maka redakanlah kemarahanku.  Jika  aku  melihatmu  marah  kepadaku,  maka  aku  meredakanmu.  Jika tidak, kita tidak harmonis.“
Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.
Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah
Janganlah  menabuhku  (untuk  memancing  kemarahan)  seperti  engkau  menabuh rebana, sekalipun , Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi.
Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku lalu hatiku enggan terhadapmu, sebab hati itu berbolak-balik.
Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati, Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi.

”Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti ”Auf. Ketika dia akan dibawa kepada  suaminya,  ibunya,  Umamah  binti  al-Haris  menemui  puterinya  lalu  berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan yang bahagia dan  kewajibannya  kepada  suaminya  yang  patut  menjadi  undang-undang  bagi  semua wanita. Ia berpesan — ”Wahai  puteriku,  engkau  berpisah  dengan  suasana  yang  darinya  engkau  keluar,  dan engkau  beralih pada kehidupan  yang di  dalamnya  engkau naik untuk orang  yang  lalai dan  membantu  orang  yang  berakal.  Seandainya  wanita  tidak  membutuhkan  suami karena  kedua  orang  tuanya  masih  cukup  dan  keduanya  sangat  membutuhkanya, niscaya  akulah  orang  yang  paling  tidak  membutuhkannya.  Tetapi  kaum  wanita diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula laki-laki diciptakan. ....................Wahai  puteriku, sesungguhnya  engkau  berpisah  dengan  suasana yang  darinya engkau keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada keluarga yang belum  engkau  kenal  dan  teman  yang  engkau  belum  terbiasa  dengannya.  Ia  dengan kekuasaannya  menjadi  pengawas  dan raja  atasmu,  maka  jadilah engkau  sebagai  abdi, niscaya  ia  menjadi  abdimu  pula.  Peliharalah  untuknya  10  perkara,  niscaya  ini  akan menjadi kekayaan bagimu.
Pertama  dan  kedua,  tunduk  kepadanya  dengan  qana‘ah  (merasa  cukup),  serta mendengar dan patuh kepadanya.
Ketiga  dan  keempat,  memperhatikan  mata  dan  hidungnya.  Jangan  sampai  matanya melihat  suatu  keburukan  darimu,  dan  jangan  sampai  mencium  darimu  kecuali  aroma yang paling harum.
Kelima  dan  keenam,  memperhatikan  tidur  dan  makannya.  Karena  terlambat  makan akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.
Ketujuh  dan  kedelapan,  menjaga  hartanya  dan  memelihara  keluarga  dan  kerabatnya. Inti  perkara  berkenaan  dengan  harta  ialah  menghargainya  dengan  baik,  sedangkan berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.
Kesembilan  dan  kesepuluh,  jangan  menentang perintahnya  dan  jangan  menyebarkan rahasianya.  Karena  jika  engkau  menyelisihi  perintahnya,  maka  hatinya  menjadi  kesal dan  jika engkau  menyebarkan  rahasianya,  maka engkau  tidak  merasa aman  terhadap pengkhianatannya.  Kemudian  janganlah  engkau  bergembira  di  hadapannya  ketika  dia bersedih, dan jangan pula bersedih di hadapannya ketika dia bergembira“( Ahkaamun Nisaa‘, Ibnul Jauzi (hal. 74-78).

Seseorang  menikahkan  puterinya  dengan  keponakannya.  Ketika  ia  hendak membawanya,  maka  dia  berkata  kepada  ibunya,  —Perintahkan  kepada  puterimu  agar tidak singgah  di  kediaman  (suaminya)  melainkan  dalam  keadaan  telah  mandi.  Sebab, air  itu  dapat  mencemerlangkan  bagian  atas  dan  membersihkan  bagian  bawah.  Dan janganlah  ia terlalu  sering mencumbuinya.  Sebab  jika badan lelah, maka hati  menjadi lelah.  Jangan  pula  menghalangi  syahwatnya,  sebab  keharmonisan  itu  terletak  dalam kesesuaian.

Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul Mukminin ”Utsman  bin  ”Affan  Radhitallahu  ”anhu,  dan  beliau  telah  menikahinya,  maka  ayahnya menasihatinya  dengan  ucapannya,  —Wahai  puteriku,  engkau  didahulukan  atas  para wanita  dari  kaum  wanita  Quraisy  yang  lebih  mampu  untuk  berdandan  darimu,  maka peliharalah  dariku  dua  hal  ini  :  bercelaklah  dan  mandilah,  sehingga  aromamu  adalah aroma bejana yang terguyur hujan.“

Abul Aswad berkata kepada puterinya, —Jangalah engkau cemburu, sebab kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah,  dan  sebaik-baik perhiasan  ialah  celak.  Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan wudhu.‘“

Ummu  Ma‘ashirah  menasihati  puterinya  dengan  nasihat  berikut  ini  yang  telah diramunya  dengan  senyum  dan  air  matanya:  —Wahai  puteriku,  engkau  akan  memulai kehidupan  yang baru… Suatu kehidupan  yang tiada tempat  di dalamnya  untuk  ibumu, ayahmu,  atau  untuk  seorang  pun  dari  saudaramu.  Engkau  akan  menjadi  teman  bagi seorang  pria  yang  tidak  ingin  ada  seorangpun  yang  menyekutuinya  berkenaan denganmu  hingga  walaupun  ia  berasal  dari  daging  dan  darahmu.  Jadilah  engkau sebagai  isteri,  wahai  puteriku,  dan  jadilah  engkau  sebagai  ibu  baginya.  Jadikanlah  ia merasa  bahwa  engkau  adalah  segalanya  dalam  kehidupannya  dan  segalanya  dalam dunianya.  Ingatlah  selalu  bahwa  suami  itu  anak-anak  yang  besar,  jarang  sekali kata-kata  manis  yang  membahagiakannya.  Jangan  engkau  menjadikannya  merasa bahwa dengan dia menikahimu, ia telah menghalangimu dari keluargamu.
Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah  meninggalkan rumah kedua  orang  tuanya  dan  meninggalkan  keluarganya  karenamu.  Tetapi  perbedaan antara  dirimu  dengannya  ialah  perbedaan  antara  wanita  dan  laki-laki.  Wanita  selalu rindu  kepada  keluarganya,  kepada  rumahnya  di  mana  dia  dilahirkan,  tumbuh  menjadi besar  dan  belajar.  Tetapi  dia  harus  membiasakan  dirinya dalam  kehidupan  yang  baru ini.  Ia  harus  mencari  hakikat  hidupnya  bersama  pria  yang  telah  menjadi  suami  dan ayah  bagi  anak-anaknya.  Inilah  duniamu  yang  baru,  wahai  puteriku.  Inilah  masa  kini dan  masa  depanmu.  Inilah  mahligaimu,  di  mana  kalian  berdua  bersama-sama menciptakannya.
Adapun  kedua  orang tuamu adalah  masa  lalu.  Aku tidak memintamu  melupakan  ayah dan  ibumu  serta  saudara-saudaramu,  karena  mereka  tidak  akan  melupakanmu selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan hatinya? Tetapi  aku  meminta  kepadamu  agar  engkau  mencintai  suamimu,  mendampingi suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya.“

Diriwayatkan  bahwa  Ibnu  Abi  ”Udzr  ad-Du'ali  -pada  hari-hari  pemerintahan  ”Umar Radhiyallahu  ”anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya. Sehingga muncullah kepadanya  beberapa  peristiwa  yang  tidak  disukainya  berkenaan  dengan  para  wanita tersebut  dari  hal  itu.  Ketika  dia  mengetahui  hal  itu,  maka  dia  memegang  tangan ”Abdullah  bin  al-Arqam  sehingga  membawanya  ke  rumahnya.  Kemudian  dia  berkata kepada  isterinya:  —Aku  memintamu  bersumpah  demi  Allah,  apakah  engkau  benci kepadaku?“  Ia  menjawab,  —Jangan  memintaku  bersumpah  demi  Allah.“  Dia mengatakan, —Aku memintamu bersumpah demi Allah.“ Ia menjawab, —Ya.“ Kemudian  dia  berkata  kepada  Ibnul  Arqam,  —Apakah  engkau  dengar?“  Kemudian keduanya  bertolak  hingga  sampai  kepada  ”Umar  bin  al-Khaththab  Radhiyallahu  ”anhu
lalu  mengatakan,  —Kalian  mengatakan  bahwa  aku  menzhalimi  kaum  wanita  dan menceraikan  mereka.  Bertanyalah  kepada  al-Arqam.“  Lalu  ”Umar  bertanya  kepadanya dan  mengabarkannya.  Lalu  beliau  mengirim  utusan  kepada  isteri  Ibnu  Abi  ”Udzrah (untuk  datang  kepada  ”Umar).  Ia  pun  datang  bersama  bibinya,  lalu  ”Umar  bertanya, —Engkaukah  yang  bercerita  kepada  suamimu  bahwa  engkau  marah  kepadanya?“  Ia menjawab,  —Aku  adalah  orang  yang  mula-mula  bertaubat  dan  menelaah  kembali perintah  Allah  kepadaku.  Ia  memintaku  bersumpah  dan  aku  takut  berdosa  bila berdusta,  apakah  aku  boleh  berdusta,  wahai  Amirul  Mukminin?“  Dia  menjawab,  —Ya, berdustalah.  Jika  salah  seorang  dari  kalian  tidak  menyukai  salah  seorang  dari  kami, janganlah menceritakan  hal itu  kepadanya. Sebab,  jarang sekali  rumah  yang dibangun di atas dasar cinta, tetapi manusia hidup dengan Islam dan mencari pahala“( Syarhus Sunnah (XIII/120).
Kepada setiap muslimah yang  memenuhi  hak-hak  suaminya  dan  takut terhadap  murka Rabb-nya  karena  dia  mengetahui  hak  suaminya  atasnya!  Inilah  contoh  sebagian  pria yang  mensifati  isterinya  yang  tidak  mengetahui  hak  suaminya  dan  tidak  pula memelihara  kebaikannya.  Ia  tidak  mempercantik  diri  dan  tidak  berdandan  untuknya, serta  bermulut  kasar.  Ia  mensifatinya  dengan  sifat  yang  membuat  hati  bergetar  dan telinga  terngiang-ngiang.  Camkanlah  sehingga  engkau  tidak  jatuh  ke  tempat  yang menggelincirkan ini.

 

[Disalin  dari  kitab Isyratun  Nisaa  Minal  Alif  Ilal  Yaa,  Edisi Indonesia:  Panduan  Lengkap Nikah  Dari  A  Sampai  Z,  Penulis  Abu  Hafsh  Usamah  bin  Kamal  bin  Abdir  Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]
sumber: www.almanhaj.or.id

 

 



Source URL: http://www.fai-kao.com/node/627