Pembeda suatu 'masalah' menjadi besar dan kecil
Oleh Dede Meki
Setiap insan manusia akan selalu berhadapan dengan yang namanya 'masalah'. Apapun masalah yang dihadapi, besar kecilnya sangatlah relatif. Macet kendaraan di jakarta akan menjadi masalah bagi sebagian orang dan bukan menjadi masalah bagi sebagian yang lain. Jika teman atau orang dekat tiba-tiba bersikap mengecewakan bahkan membuat sikap menjadi kesal, bagi sebagian akan menjadi masalah yang bisa berlangsung lama, tetapi bagi sebagian lain, bisa jadi menjadi pendorong untuk terus belakar berbuat tawadhu kepada Allah dengan keyakinan bahwa yang yang Maha Memiliki kesempurnaan Hanyalah Allah SWT, selain-Nya PASTI memiliki kekurangan, termasuk diri kita sendiri.
Lantas, mengapa suatu 'MASALAH' bisa menjadi besar dan kecil pada diri kita. Menurut saya, yang membedakannya adalah justru ada pada diri kita sendiri, yakni bernama SUDUT PANDANG. Orang-orang yang ketika dikecewakan orang lain, atasan, atau bahkan perusahaan tempat kita bekerja dll, bisa memiliki respon yang berbeda dalam dirinya. Ada yang balik kecewa atau bahkan menjadi lebih liar karena menganggap itu adalah masalah besar bagi dirinya. Ttetapi bagi sebagian lain, mungkin menganggap bukan masalah besar. Ternyata yang membedakannya adalah SUDUT PANDANG kedua jenis manusia tersebut.
Selain SUDUT PANDANG yang membedakan, juga identik dengan 'MATA' sebagai ungkapan alat untuk 'MEMANDANG'nya. Mata akal kah atau Mata hati kah sebagai alat yang digunanakan. Seperti halnya lirik lagu dari Grup Musik Nasyid Hijaz berjudul MATA HATI sebagai berikut :
Mata Hati
Artist: Hijjaz
Pandangan mata selalu menipu
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan nafsu selalu melulu
Pandangan hati itu yang hakiki
Kalau hati itu bersih
Hati kalau terlalu bersih
Pandangannya kan menembusi hijab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat kehendak Allah
Tapi hati bila dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Hati tempat jatuhnya pandangan Allah
Jasad lahir tumpuan manusia
Utamakanlah pandangan Allah
Daripada pandangan manusia
Yang digaris dibawahi tersebut diatas, Hijablah yang membuat sudut pandang seseorang bisa berbeda dengan orang lain. Jika Hijab kita kepada Allah terlalu TEBAL (karena kita yang membuat itu semakin tebal) akan membuat sulit cahaya ilahi bisa tembus kedalam hati kita. Dalam istilah ESQ, Hijab ini mungkin identik dengan 'BELENGGU' (baca lengkapnya di sini ).
Wa Hadaynaahu nnajdayn (Al Balad : 10) 'Dan Kami menunjukkan dua jalan'
Ketika hijab itu kita sadari ada, maka pilihannya ada dua, mempertebal Hijab atau tembus hijab?
Mempertebal Hijab, berarti kita terbelenggu sendiri tanpa cahaya Ilahi
Menembus Hijab, berarti ilham, petunjutk dan cahaya Ilhai Insya Allah akan menuntun kita menjadi insan yang lebih bertakwa.
Wallahu A'lam
Salam,
dedemeki@centrin.net.id










Post new comment